Tampilkan postingan dengan label karena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karena. Tampilkan semua postingan
Rosie Huntington Dikritik Karena Berpose Erotis
Minggu, 22 Desember 2013
Rosie Huntington Dikritik Karena Berpose Erotis - Sekedar menghilangkan rasa penasan tentang seorang selebritis yang bernama Rosie Huntington yang ujarnya seorang model berpose dengan mulut terbuka, mata setengah tertutup, seolah-olah sedang terangsang. Lalu, hasil foto lainnya terlihat seorang model berpose tertidur di atas lantai, rambut tergerai, dengan pose kaki yang terbuka, dan sangat menantang.

Pose-pose tersebut bukanlah bagian dari foto model majalah dewasa yang berbau pornografi. Itu adalah bagian sesi foto dari produk parfum dan tas yang diproduksi oleh rumah mode ternama. Hingga tak heran jika Caryn Franklin, mantan pembawa acara The Clothes Show di BBC yang juga merupakan seorang komentator gaya berbusana mengatakan bahwa fesyen kini menjadi cabang dari industri pornografi.
“Iklan busana wanita sekarang terkesan seperti memberdayakan kaum wanita dan sangat erotis. Model yang ditargetkan pun bukan wanita dewasa, melainkan remaja. Apa pesan yang akan diterima oleh remaja yang masih dalam proses pendewasaan saat melihat foto-foto tersebut?” terangnya.
Burbery adalah salah satu rumah mode yang mendapatkan kritikan pedas dari kritikus gaya berbusana itu. Rosie Huntington-Whiteley, merupakan model iklan yang tampak erotis saat menggunakan trench coat berwarna cokelat, tanpa menggunakan dalaman sehingga membuat dirinya seperti seorang wanita “nakal”. Foto tersebut disebut salah fokus karena bagian yang paling menonjol bukanlah trench coat yang akan diluncurkan, melainkan bagian tubuh dari Rosie, yakni bagian dada, perut, dan paha.
Demikianlah ulasan tentang Rosie Huntington Dikritik Karena Berpose Erotis, semoga menambah informasi yang memuaskan.
Jadi Pengusaha karena Hobi Modifikasi Mobil
Rabu, 18 Desember 2013

Menjalani usaha sesuai hati dan minat adalah hal yang paling menyenangkan bagi banyak orang. Meskipun setiap usaha tersebut tidak langsung menemui jalan kesuksesan, memetik hikmah dari kegagalan pun tidak akan menyurutkan semangat berusaha.
Itulah yang dialami Andre Mulyadi, pria berkulit putih yang saat ini sedang menjalankan usahanya di bidang auto-modification dan custom painting. Berkat kegigihannya, sekarang dia telah memiliki sebuah bengkel yang bernama Signal Kustom Built di Jalan Jakarta, Bandung.
Nama tempat usahanya tersebut kini tidak hanya diperhitungkan di Bandung, tetapi juga di Indonesia hingga luar negeri. Kesuksesan yang dia raih kini bukanlah tanpa perjuangan yang panjang dan usaha yang keras.
Berbagai kendala pernah dihadapinya. Andre yang memulai usahanya sejak dia masih duduk di bangku SMA mengaku usaha ini dia rintis dari awal. “Tidak ada bayangan bahwa bengkel modifikasi mobil ini akan menjadi seperti sekarang,” kata pria kelahiran Ciamis, 20 November 1984 ini.
Andre mengawali usahanya ini dari hobi dan minat terhadap automotif yang dia miliki. Pindah dari Ciamis menuju Bandung saat memasuki bangku SMA, sejak itulah hobi dan minatnya terhadap automotif muncul. “Mempunyai teman-teman yang memiliki minat yang sama, membuat ketertarikan kepada automotif, khususnya modifikasi, semakin muncul,” ujar Andre.
Berbekal hobi dan minat, meski tidak mempunyai latar belakang desain atau automotif, Andre nekat membuka usaha di salah satu rumah kerabatnya. Ruang kosong di rumah kerabatnya itulah yang dimanfaatkan Andre sebagai bengkel modifikasi kecil-kecilan. Usahanya tersebut memang tidak mendapatkan dukungan sedikit pun dari orang tuanya. “Orang tua saya berpendapat memodifikasi mobil itu hanya buang-buang uang saja,” kata Andre.
Meski tidak mendapat restu dari orang tua, tekatnya sudah bulat. Dia tetap membuka usahanya dengan modal yang nyaris tidak ada. Dia hanya ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa hobinya tersebut bisa menghasilkan uang dan tidak hanya membuang-buang uang. Mobil pertama yang ia garap adalah mobil milik teman sekolahnya dulu.
Modal nekat dan berani mencoba memang yang ia andalkan pada saat itu. Sekali mencoba memang tidak lantas membuat mobil hasil modifikasinya bagus. Mencoba berkali-kali pun dia lakoni. Dia membuka usaha secara resmi pada 2003. Kalau ditanya pernah mengalami kegagalan atau tidak, Andre dengan mantap menjawab, “Pasti pernah,” ujarnya.
Dia memang pernah beberapa kali gagal memodifikasi mobil pelanggannya. Andre pun terpaksa mengganti semua kerugian. Namun, kegagalan tersebut buru-buru dijadikan pecutan olehnya agar bisa bangkit dan berusaha dengan lebih baik lagi. “Dulu usaha custom body transformasi yang ekstrem belum ada di Bandung. Kami yang pertama merintisnya,” tutur Andre.
Awal namanya mulai dikenal adalah saat ia mengubah sebuah Isuzu Panther pikap miliknya menjadi sebuah Hummer H2 SUT pada 2003. Hummer itu kemudian mengikuti berbagai kompetisi dan meraih Champion. Pada 2004 pun Signal Kustom Built yang kini sedang dikembangkannya lahir.
Sejak saat itu banyak pelanggan yang mempercayainya untuk menggarap auto-modification terhadap mobil mereka. Setelah selesai dimodifikasi pun, mobil-mobil unik tersebut turut mengikuti dan memenangkan berbagai kompetisi. Tidak tanggung-tanggung, pelanggannya bukan hanya berasal dari satu kalangan. Dari pelajar SMP hingga pejabat pun pernah dilayaninya.
Untuk modifikasi secara umum, Andre memang sudah tidak bisa lagi mengingat berapa banyak mobil yang pernah dia tangani. Namun, untuk full custom extreme, kira-kira sudah 20 mobil yang diciptakannya. Para pelanggannya yang khusus datang untuk layanan custom body transformasi yang ekstrem biasanya memang menyerahkan kepercayaan penuh kepada Andre.
Biasanya mereka hanya bertemu saat mobil selesai dimodifikasi dan mengikuti kompetisi. Berbagai kompetisi yang pernah diikuti oleh mobil-mobil hasil modifikasi Andre antara lain Autoblackthrough Bandung, Autoblackthrough Jakarta, dan Super Car Challenge. Kini sudah banyak kompetitor lahir untuk menyaingi usahanya, tapi menurut Andre, itu bukan sebuah hal yang patut ditakuti. “Setiap orang mempunyai taste dan jalannya masing-masing. Yang penting adalah usaha dan pantang menyerah,” ujar Andre. (Sindo)
Itulah yang dialami Andre Mulyadi, pria berkulit putih yang saat ini sedang menjalankan usahanya di bidang auto-modification dan custom painting. Berkat kegigihannya, sekarang dia telah memiliki sebuah bengkel yang bernama Signal Kustom Built di Jalan Jakarta, Bandung.
Nama tempat usahanya tersebut kini tidak hanya diperhitungkan di Bandung, tetapi juga di Indonesia hingga luar negeri. Kesuksesan yang dia raih kini bukanlah tanpa perjuangan yang panjang dan usaha yang keras.
Berbagai kendala pernah dihadapinya. Andre yang memulai usahanya sejak dia masih duduk di bangku SMA mengaku usaha ini dia rintis dari awal. “Tidak ada bayangan bahwa bengkel modifikasi mobil ini akan menjadi seperti sekarang,” kata pria kelahiran Ciamis, 20 November 1984 ini.
Andre mengawali usahanya ini dari hobi dan minat terhadap automotif yang dia miliki. Pindah dari Ciamis menuju Bandung saat memasuki bangku SMA, sejak itulah hobi dan minatnya terhadap automotif muncul. “Mempunyai teman-teman yang memiliki minat yang sama, membuat ketertarikan kepada automotif, khususnya modifikasi, semakin muncul,” ujar Andre.
Berbekal hobi dan minat, meski tidak mempunyai latar belakang desain atau automotif, Andre nekat membuka usaha di salah satu rumah kerabatnya. Ruang kosong di rumah kerabatnya itulah yang dimanfaatkan Andre sebagai bengkel modifikasi kecil-kecilan. Usahanya tersebut memang tidak mendapatkan dukungan sedikit pun dari orang tuanya. “Orang tua saya berpendapat memodifikasi mobil itu hanya buang-buang uang saja,” kata Andre.
Meski tidak mendapat restu dari orang tua, tekatnya sudah bulat. Dia tetap membuka usahanya dengan modal yang nyaris tidak ada. Dia hanya ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa hobinya tersebut bisa menghasilkan uang dan tidak hanya membuang-buang uang. Mobil pertama yang ia garap adalah mobil milik teman sekolahnya dulu.
Modal nekat dan berani mencoba memang yang ia andalkan pada saat itu. Sekali mencoba memang tidak lantas membuat mobil hasil modifikasinya bagus. Mencoba berkali-kali pun dia lakoni. Dia membuka usaha secara resmi pada 2003. Kalau ditanya pernah mengalami kegagalan atau tidak, Andre dengan mantap menjawab, “Pasti pernah,” ujarnya.
Dia memang pernah beberapa kali gagal memodifikasi mobil pelanggannya. Andre pun terpaksa mengganti semua kerugian. Namun, kegagalan tersebut buru-buru dijadikan pecutan olehnya agar bisa bangkit dan berusaha dengan lebih baik lagi. “Dulu usaha custom body transformasi yang ekstrem belum ada di Bandung. Kami yang pertama merintisnya,” tutur Andre.
Awal namanya mulai dikenal adalah saat ia mengubah sebuah Isuzu Panther pikap miliknya menjadi sebuah Hummer H2 SUT pada 2003. Hummer itu kemudian mengikuti berbagai kompetisi dan meraih Champion. Pada 2004 pun Signal Kustom Built yang kini sedang dikembangkannya lahir.
Sejak saat itu banyak pelanggan yang mempercayainya untuk menggarap auto-modification terhadap mobil mereka. Setelah selesai dimodifikasi pun, mobil-mobil unik tersebut turut mengikuti dan memenangkan berbagai kompetisi. Tidak tanggung-tanggung, pelanggannya bukan hanya berasal dari satu kalangan. Dari pelajar SMP hingga pejabat pun pernah dilayaninya.
Untuk modifikasi secara umum, Andre memang sudah tidak bisa lagi mengingat berapa banyak mobil yang pernah dia tangani. Namun, untuk full custom extreme, kira-kira sudah 20 mobil yang diciptakannya. Para pelanggannya yang khusus datang untuk layanan custom body transformasi yang ekstrem biasanya memang menyerahkan kepercayaan penuh kepada Andre.
Biasanya mereka hanya bertemu saat mobil selesai dimodifikasi dan mengikuti kompetisi. Berbagai kompetisi yang pernah diikuti oleh mobil-mobil hasil modifikasi Andre antara lain Autoblackthrough Bandung, Autoblackthrough Jakarta, dan Super Car Challenge. Kini sudah banyak kompetitor lahir untuk menyaingi usahanya, tapi menurut Andre, itu bukan sebuah hal yang patut ditakuti. “Setiap orang mempunyai taste dan jalannya masing-masing. Yang penting adalah usaha dan pantang menyerah,” ujar Andre. (Sindo)
Sumber : okezone.com
Temple Grandin Jatuh Bangun Karena Autis Lalu Jadi Profesor
Selasa, 17 Desember 2013
Penderita autis rata-rata memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi namun karena tak mampu bersosialisasi, seringkali kepintarannya tak terlihat. Temple Grandin adalah kisah penderita autis yang bisa melewati masa sulit hingga mampu jadi profesor.

Temple Grandin tahu benar bahwa dirinya berbeda, tapi ia tidak pernah merasa kurang dari orang lain. Belum genap usia 3 tahun, Temple didiagnosis dengan austisme, masalah perkembangan saraf kompleks yang membuatnya tidak mampu berhubungan sosial.
Meski jatuh bangun menghadapi kondisinya, kini Temple justru berhasil menjadi seorang profesor di bidang ilmu hewan.
Temple Grandin lahir di Boston, AS, pada 3 Desember 1947 dari pasangan Richard Grandin dan Eustacia Cutler. Tapi pada tahun 1950, sulung dari empat bersaudara ini mengalami gejala awal autisme, ia benci disentuh, mudah marah dan sangat pendiam.
Pada saat itu, anak-anak autis seringkali salah mendapatkan diagnosis, sehingga banyak yang mengalami masalah pada perkembangan fisik (difabel atau cacat), kerusakan otak atau bahkan tidak akan pernah bisa hidup sendiri.
Seiring berjalannya waktu, gejala autis Temple pun semakin parah. Dokter berpendapat ia mengalami kerusakan otak dan harus menerima perawatan jangka panjang. Ayahnya bahkan ingin Temple dirawat dalam institusi dengan menjalani perawatan gangguan perkembangan seumur hidup.
"Ayah saya adalah salah satu orang yang ingin menempatkan saya di sebuah institusi (semacam lembaga perawatan seumur hidup untuk anak autis)," jelas Temple Grandin, yang kini lebih dikenal sebagai profesor ilmu hewan di Colorado State University, seperti dilansir Dailymail.
Tapi ibunya Eustacia, justu mengirim putrinya ke terapi wicara dan menyewa pengasuh untuk menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk bermain game dengannya.
"Ketika saya masih sangat muda, saya tidak berbicara, tidak memperhatikan atau melakukan kontak mata sama sekali. Saya hanya akan bersenandung sendiri dan menggiring bola pasir di tangan," kenang wanita 64 tahun ini.
Menurut Temple, memberikan banyak waktu untuk bersama lebih dini sangat penting untuk anak autis. Hal itu dapat menghentikan sang anak mundur pada sudut isolasi dan membuat perubahan di otaknya.
Sang ibu yang tangguh merasa yakin bahwa dengan interaksi yang cukup, Temple dapat dilatih untuk belajar berperilaku normal. Tak hanya belajar berbicara, Temple pun diajari sopan santun.
Pada usia 5 tahun, sang ibu mengajarkan dengan sedikit memaksanya untuk dapat menempatkan serbet di pangkuan, lalu menata sendok dan garpu dengan benar.
Menurut Temple, anak-anak autis zaman sekarang terlalu banyak dimanja sehingga menyebabkan sensory overload, yang dapat membawa serangan panik berlebihan. "Jika Anda tidak menekan sedikit, maka tidak akan ada kemajuan apapun," jelasnya.
Keluarga Grandin memiliki dana yang cukup untuk mengirim Temple ke sekolah swasta yang memberinya perhatian lebih ketimbang sekolah negeri. Namun meski sekolah tetap tidak menyenangkan baginya, ada satu kelas yang benar-benar membuatnya merasa senang, yaitu kelas berkuda dan laboratorium ilmu pengetahuan.
Saat harus berusaha mengatasi ketidakmampuan fisiknya, Temple justru mendapatkan keuntungan sendiri. Di suatu musim panas, Temple remaja yang tinggal di peternakan bibinya di Arizona menemukan empati manusianya yang hilang, diimbangi dengan pemahaman yang luar biasa terhadap hewan di peternakan bibinya.
Peternakan menjadi titik balik bagi Temple. Bukan saja ia bisa merawat kuda bibinya, tapi ia juga mulai merasakan ikatan khusus dengan ternak, yang membuatnya merasa lebih damai ketimbang harus berinteraksi dengan orang lain.
Jika Dr Doolittle dapat berbicara dengan hewan, maka Temple dapat berpikir seperti apa yang hewan pikirkan.

Ia menemukan bahwa sapi sama seperti dirinya, resah dengan suara dan gerakan yang tak terduga. Namun dengan tekanan yang sesuai, sapi dapat tenang saat dilakukan pemerahan susu atau vaksinasi.
Terpesona dengan kondisi itu, Temple membujuk bibinya agar diperbolehkan mencoba memerah sapi. Hasilnya sangat dramatis, hal itu dapat menenangkan saraf Temple.
Dengan berpikiran ilmiah, Temple pun menciptakan mesin tekan (squeeze machine) darurat sendiri. Dia akan menarik kabel yang diberikan tekanan dari panel pada kedua sisinya, yang dapat menenangkan sistem sarafnya yang terlalu aktif.
Masa SMA menjadi makin sulit baginya, tetapi ia terus bertahan dan berhasil mendapatkan gelar sarjana psikologi dari Franklin Pierce University di New Hampshire.
"Tinggal di sebuah kamar bersama di asrama adalah bagian tersulit. Squeeze machine dibuang oleh teman sekamar karena dianggap berantakan," kenang Temple.
Di sekolah pascasarjana di Arizona State University, Temple akhirnya menemukan suaranya, meneliti perilaku hewan dan bekerja di industri ternak sebagai bagian dari penelitian pascasarjananya.
Dia mulai merasakan bahwa ternak dan hewan lainnya sama seperti dirinya, mengandalkan petunjuk visual untuk menavigasi dunia mereka. "Hewan adalah pemikir sensorik. Mereka berpikir dalam gambar, juga dalam bau dan suara," jelas Temple.
Dengan perspektif yang unik, Temple pun mulai menulis artikel untuk majalah ternak yang terkenal.
Namun industri ternak dari Midwest pada 1970-an, bagaimanapun, bukan tempat yang mudah bagi seorang wanita muda. Dia menghadapi seksisme ekstrim dan bullying, bahkan pada suatu kesempatan, ia mendapatkan mobilnya tertutup testis banteng yang berdarah.
"Banyak koboi yang ingin saya pergi karena mereka mengatakan istrinya tidak suka saya berada disana. Tapi karena saya autis, saya tidak menangkap hal-hal sosial. Saya tidak melihat ketidaksukaan mereka terhadap saya, saya hanya ingin bekerja. Jadi selama saya bisa melakukannya dan saya senang," ujar Temple.

Temple mulai merancang apa yang sudah ia lihat dalam benaknya, yaitu cara yang lebih baik menyalurkan ternak melalui tong disinfektan dan vaksinasi tanpa membuat ternak menjadi khawatir atau takut.
Selanjutnya, dia mengalihkan perhatiannya ke rumah pemotongan hewan, merancang sistem penyembelihan ternak yang lebih manusiawi. Luar biasanya, kini lebih dari setengah juta ternak di AS dan Kanada ditangani dengan fasilitas yang dirancang oleh Temple.
Ia juga bekerja sebagai konsultan bagi McDonald, perancangan dan pelaksanaan program-program kesejahteraan hewan.
Anak autis ini mampu mengubah industri peternakan Amerika, menjadi juru bicara autisme dan mengajar mahasiswa PhD di Colorado State University. Dr Temple Grandin juga menulis sepuluh buku, tentang hewan dan perilaku manusia.
Kisah hidup Temple yang inspiratif bahkan pernah difilmkan oleh HBO dengan judul namanya sendiri Temple Grandin.
Sumber :
health.detik.com

Temple Grandin tahu benar bahwa dirinya berbeda, tapi ia tidak pernah merasa kurang dari orang lain. Belum genap usia 3 tahun, Temple didiagnosis dengan austisme, masalah perkembangan saraf kompleks yang membuatnya tidak mampu berhubungan sosial.
Meski jatuh bangun menghadapi kondisinya, kini Temple justru berhasil menjadi seorang profesor di bidang ilmu hewan.
Temple Grandin lahir di Boston, AS, pada 3 Desember 1947 dari pasangan Richard Grandin dan Eustacia Cutler. Tapi pada tahun 1950, sulung dari empat bersaudara ini mengalami gejala awal autisme, ia benci disentuh, mudah marah dan sangat pendiam.
Pada saat itu, anak-anak autis seringkali salah mendapatkan diagnosis, sehingga banyak yang mengalami masalah pada perkembangan fisik (difabel atau cacat), kerusakan otak atau bahkan tidak akan pernah bisa hidup sendiri.
Seiring berjalannya waktu, gejala autis Temple pun semakin parah. Dokter berpendapat ia mengalami kerusakan otak dan harus menerima perawatan jangka panjang. Ayahnya bahkan ingin Temple dirawat dalam institusi dengan menjalani perawatan gangguan perkembangan seumur hidup.
"Ayah saya adalah salah satu orang yang ingin menempatkan saya di sebuah institusi (semacam lembaga perawatan seumur hidup untuk anak autis)," jelas Temple Grandin, yang kini lebih dikenal sebagai profesor ilmu hewan di Colorado State University, seperti dilansir Dailymail.
Tapi ibunya Eustacia, justu mengirim putrinya ke terapi wicara dan menyewa pengasuh untuk menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk bermain game dengannya.
"Ketika saya masih sangat muda, saya tidak berbicara, tidak memperhatikan atau melakukan kontak mata sama sekali. Saya hanya akan bersenandung sendiri dan menggiring bola pasir di tangan," kenang wanita 64 tahun ini.
Menurut Temple, memberikan banyak waktu untuk bersama lebih dini sangat penting untuk anak autis. Hal itu dapat menghentikan sang anak mundur pada sudut isolasi dan membuat perubahan di otaknya.
Sang ibu yang tangguh merasa yakin bahwa dengan interaksi yang cukup, Temple dapat dilatih untuk belajar berperilaku normal. Tak hanya belajar berbicara, Temple pun diajari sopan santun.
Pada usia 5 tahun, sang ibu mengajarkan dengan sedikit memaksanya untuk dapat menempatkan serbet di pangkuan, lalu menata sendok dan garpu dengan benar.
Menurut Temple, anak-anak autis zaman sekarang terlalu banyak dimanja sehingga menyebabkan sensory overload, yang dapat membawa serangan panik berlebihan. "Jika Anda tidak menekan sedikit, maka tidak akan ada kemajuan apapun," jelasnya.
Keluarga Grandin memiliki dana yang cukup untuk mengirim Temple ke sekolah swasta yang memberinya perhatian lebih ketimbang sekolah negeri. Namun meski sekolah tetap tidak menyenangkan baginya, ada satu kelas yang benar-benar membuatnya merasa senang, yaitu kelas berkuda dan laboratorium ilmu pengetahuan.
Saat harus berusaha mengatasi ketidakmampuan fisiknya, Temple justru mendapatkan keuntungan sendiri. Di suatu musim panas, Temple remaja yang tinggal di peternakan bibinya di Arizona menemukan empati manusianya yang hilang, diimbangi dengan pemahaman yang luar biasa terhadap hewan di peternakan bibinya.
Peternakan menjadi titik balik bagi Temple. Bukan saja ia bisa merawat kuda bibinya, tapi ia juga mulai merasakan ikatan khusus dengan ternak, yang membuatnya merasa lebih damai ketimbang harus berinteraksi dengan orang lain.
Jika Dr Doolittle dapat berbicara dengan hewan, maka Temple dapat berpikir seperti apa yang hewan pikirkan.

Ia menemukan bahwa sapi sama seperti dirinya, resah dengan suara dan gerakan yang tak terduga. Namun dengan tekanan yang sesuai, sapi dapat tenang saat dilakukan pemerahan susu atau vaksinasi.
Terpesona dengan kondisi itu, Temple membujuk bibinya agar diperbolehkan mencoba memerah sapi. Hasilnya sangat dramatis, hal itu dapat menenangkan saraf Temple.
Dengan berpikiran ilmiah, Temple pun menciptakan mesin tekan (squeeze machine) darurat sendiri. Dia akan menarik kabel yang diberikan tekanan dari panel pada kedua sisinya, yang dapat menenangkan sistem sarafnya yang terlalu aktif.
Masa SMA menjadi makin sulit baginya, tetapi ia terus bertahan dan berhasil mendapatkan gelar sarjana psikologi dari Franklin Pierce University di New Hampshire.
"Tinggal di sebuah kamar bersama di asrama adalah bagian tersulit. Squeeze machine dibuang oleh teman sekamar karena dianggap berantakan," kenang Temple.
Di sekolah pascasarjana di Arizona State University, Temple akhirnya menemukan suaranya, meneliti perilaku hewan dan bekerja di industri ternak sebagai bagian dari penelitian pascasarjananya.
Dia mulai merasakan bahwa ternak dan hewan lainnya sama seperti dirinya, mengandalkan petunjuk visual untuk menavigasi dunia mereka. "Hewan adalah pemikir sensorik. Mereka berpikir dalam gambar, juga dalam bau dan suara," jelas Temple.
Dengan perspektif yang unik, Temple pun mulai menulis artikel untuk majalah ternak yang terkenal.
Namun industri ternak dari Midwest pada 1970-an, bagaimanapun, bukan tempat yang mudah bagi seorang wanita muda. Dia menghadapi seksisme ekstrim dan bullying, bahkan pada suatu kesempatan, ia mendapatkan mobilnya tertutup testis banteng yang berdarah.
"Banyak koboi yang ingin saya pergi karena mereka mengatakan istrinya tidak suka saya berada disana. Tapi karena saya autis, saya tidak menangkap hal-hal sosial. Saya tidak melihat ketidaksukaan mereka terhadap saya, saya hanya ingin bekerja. Jadi selama saya bisa melakukannya dan saya senang," ujar Temple.

Temple mulai merancang apa yang sudah ia lihat dalam benaknya, yaitu cara yang lebih baik menyalurkan ternak melalui tong disinfektan dan vaksinasi tanpa membuat ternak menjadi khawatir atau takut.
Selanjutnya, dia mengalihkan perhatiannya ke rumah pemotongan hewan, merancang sistem penyembelihan ternak yang lebih manusiawi. Luar biasanya, kini lebih dari setengah juta ternak di AS dan Kanada ditangani dengan fasilitas yang dirancang oleh Temple.
Ia juga bekerja sebagai konsultan bagi McDonald, perancangan dan pelaksanaan program-program kesejahteraan hewan.
Anak autis ini mampu mengubah industri peternakan Amerika, menjadi juru bicara autisme dan mengajar mahasiswa PhD di Colorado State University. Dr Temple Grandin juga menulis sepuluh buku, tentang hewan dan perilaku manusia.
Kisah hidup Temple yang inspiratif bahkan pernah difilmkan oleh HBO dengan judul namanya sendiri Temple Grandin.
Sumber :
health.detik.com
Langganan:
Postingan (Atom)